Jelang musim balap MotoGP 2018, yang akan dimulai di Sirkuit Qatar pada 18 Maret, bagi pembalap akan sangat menantang. Balapan yang digelar malam hari, selain fisik yang akan dikuras tapi juga jam biologis yang seharusnya untuk istirahat justru ditantang untuk konsetrasi dan menguras adrenalin.

Wajarlah bila banyak pembalap meski musim dingin ataupun liburan pasca balap MotoGP 2017, mereka tetap melakukan olah raga fisik yang cukup keras. Namun sesuai dengan program yang sudah ditetapkan oleh manager, karena bila terlalu keras, kemungkinan akan membuat pembalap cidera dan mengacaukan awal musim balap.

1. Berlatih Motocross
Bagi pembalap MotoGP, motocross sudah akrab sejak mereka masih usia belia. Bahkan usia 3-5 tahun sudah bermain dengan motor ini. Sebab berlatih menggunakan motocross akan meningkatkan respon pengendaraan dan juga gaya berkendara untuk mengontrol tenaga motor yang mencapai 220 hp.

2. Meningkatkan Konsetrasi
Resiko terjatuh pada kecepatan 320 km/jam sangat ditakutkan pembalap ketika berada di lintasan. Adreanalin dan emosi harus dikontrol, karena sebisa mungkin tetap konsisten mengatur irama kendali motor dan fisik yang akan terus menurun. Apalagi kondisi lintasan dan cuaca panas terik di kawasan Asia Tenggara seperti Malaysia dan Thailand akan sangat menguras fisik pembalap dan membuat dehidrasi.

3. Berlatih Rutin Tapi TIdak Membosankan
Banyak pembalap kelas dunia, termasuk pembalap di Indonesia selalu rutin berlatih di gym, berlari dan bersepeda. Hal tersebut guna meningkatkan daya tahan fisik dan durabilitas pembalap. Tapi memang harus dilakukan sedikit modifikasi pada latihan agar lebih menyenangkan dan tidak membosankan.

Pembalap kelas dunia seperti Marc Marquez saja menyatakan bila latihan terlalu rutin tanpa modifikasi, tubuh akan bosan. “Anda harus merubah latihan, karena bisa membuat lebih fokus serta akan menyenangkan dengan cara itu.”

4. Angkat Beban
Angkat beban memang cukup penting untuk menambah kekuatan fisik. Namun para pelatih fisik pembalap lebih menyarankan agar tubuh tetap dijaga kerampingan dan kelenturannya agar tidak memengaruhi aerodinamika. Sehingga selain harus menjaga bobot, tapi sekaligus membuat tubuh tidak terlalu lebar.


Efek dari tubuh yang ramping dan lentur akan membuat pengendara bisa terselamatkan dari cidera lebih serius ketika terguling dari motor saat kecepatan tinggi. Marc Marquez melatih kelenturan fisik sejak masih usia 11 tahun.

5. Melatih Otot Lengan
Mengendarai motor sport dengan kecepatan tinggi dan mengerem dari kecepatan tinggi memang kebanyakan mengandalkan kekuatan otot lengan. Sangat diperlukan kekuatan lengan untuk terus dilatih. Tapi terkadang melatih dengan bobot yang terlalu berat akan membuat bagian otot telapak tangan alami carpal tunnel syndrome, penanganannya tangan pembalap harus dioperasi.