Indonesia yang terdiri lebih dari 30 provinsi dan ribuan pulau memiliki beragam budaya yang tentunya bisa menjadi wisata edukatif.

Ada banyak upacara adat atau ritual yang bisa dipelajari dari berbagai kebudayaan tersebut. Ini dia beberapa upacara adat yang sayang untuk dilewatkan.

Berikut ini beberapa ritual atau upacara adat yang ekstrim di Indonesia.

1.Pasola – Sumba

Tradisi Pasola Sumba merupakan upacara adat masyarakat Sumatera Barat. Upacara ini tergolong ekstrim. Bagaimana tidak ekstrim, karena dimainkan menggunakan senjata tajam.

Dalam permaian upacara adat tersebut, ada dua orang penunggang kuda, masing-masing membawa senjata lembing, kemudian keduanya saling berhadapan dan menyerang, lalu keduanya saling melemparkan lembingnya ke ladang.

Jika dalam pertarungan tersebut ada korban yang terluka, sang korban dianggap sebagai orang yang bersalah dan dianggap sudah melakukan kesalahan.

Dari cerita yang ada, darah dari kedua penunggang kuda sebagai kesatria yang bercucuran di atas ladang atau kebun akan membantu tanaman para petani bisa tumbuh subur.

 Photo Credit: Kemendikbud

2.Bantengan

Ritual Bantengan atau Kebo-keboan, meruapakan ritual upacara adat yang ada di Banyuwangi Jawa Timur. Ritual ini dilakukan oleh para petani, konon sebagai bentuk syukur atas hasil kebun mereka.

Bantengan merupakan sebuah seni budaya tradisi yang menggabungkan unsur sendra tari, olah kanuragan, musik, dan syair atau mantra yang sangat kental dengan nuansa magis.

Pelaku Bantengan yakin bahwa permainannya akan semakin menarik apabila telah masuk tahap “trans” yaitu tahapan pemain pemegang kepala Bantengan menjadi kesurupan arwah leluhur Banteng (Dhanyangan).

Perkembangan kesenian Bantengan mayoritas berada di masyarakat pedesaan atau wilayah pinggiran kota di daerah lereng pegunungan se-Jawa Timur tepatnya Bromo-Tengger-Semeru, Arjuno-Welirang, Anjasmoro, Kawi dan Raung-Argopuro.

 Photo Credit: Pasuruan Museum Jatim

3.Debus Banten

Debus merupakan kesenian bela diri suku Banten yang mempertunjukan kemampuan manusia yang luar biasa, misalnya kebal senjata tajam, kebal air keras, dan lain- lain.

Kesenian ini berawal pada masa pemerintahan Maulana Hasanuddin dari Banten pada abad-16 lebih tepatnya taun 1532-1570. Debus menjadi sebuah alat untuk memompa semangat juang rakyat banten melawan penjajah Belanda pada masa itu. Kesenian Debus saat ini merupakan kombinasi antara seni tari dan suara.

Kesenian Debus yang sering dipertontokan yakni menusuk perut menggunakan senjata tajam, memotong bagian tubuh, membakar tubuh dan lain-lain, yang memperlihatkan kekuatan ilmu yang dimiliki.

 Photo Credit: Banten Travel

4.Bambu Gila

Bambu Gila adalah salah satu kesenian tradisional yang berasal dari daerah Maluku. Selain kaya akan nilai seni, kesenian satu ini sangat kental akan kesan mistis dengan menggunakan bambu sebagai medianya.

Bambu Gila ini merupakan salah satu kesenian tradisional yang cukup terkenal di daerah Maluku dan sering ditampilkan di berbagai acara baik adat, hiburan, maupun acara budaya.

Kesenian Bambu Gila ini biasanya dibawakan oleh para laki-laki yang terdiri 7 orang dan 1 orang bertindak sebagai pawang. Pawang ini nantinya akan bertugas membacakan mantra, memasukan roh ke dalam bambu, dan menjinakkannya.

Bambu yang digunakan dalam kesenian ini tentu bukan bambu sembarangan dan harus memiliki karakteristik khusus.

Dalam permainan Bambu gila diiringi musik, biasanya jika musik semakin cepat maka Bambu akan semakin liar bergerak, sehingga para pemain harus mampu mempertahankan kekuatan mereka untuk bisa menaklukan Bambu Gila.

 Photo Credit: TopIndonesia Today

5.Adu Betis

Adu betis biasanya dilakukan masyarakat Sulawesi Selatan di Kecamatan Moncongloe, Kabupaten Maros, seusai panen besar. Tradisi ini sebagai ucapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas keberhasilan panen.

Sesuai nama tradisinya, setiap pria di Maros menunjukkan kekuatan dengan cara saling menendangkan betis mereka. Tradisi ini tidak dilakukan di tempat sembarangan.

Adu betis dilakukan di dekat makam Gallarang Monconloe, leluhur desa Moncongloe yang juga pamannya Raja Gowa, Sultan Alauddin.

Adu betis tidak dilombakan, tradisi ini hanya untuk menunjukkan kekuatan peserta. Setelah adu betis selesai, tidak jarang ada peserta yang mengalami patah tulang. Meski begitu, tradisi ini tetap dinantikan kehadirannya setiap tahun oleh masyarakat Maros.

Photo Credit: