Kalau Madura punya Karapan Sapi, Bali juga punya tradisi balapan yang menggunakan hewan. Bedanya, di Bali orang menggunakan kerbau, bukan sapi. Tradisi ini disebut Makepung.

Makepung berasal dari kata kepung yang artinya mengejar. Tradisi ini berasal dari Kabupaten Jembana, Bali. Awalnya sih kegiatan ini cuma jadi seru-seruan saja, adu kekuatan kerbau saat membajak di Jembrana. Lama-lama, para petani di daerah ini menjadikan kegiatan tersebut menjadi tradisi balap kerbau yang secara rutin dilakukan di arena balap sawah.

Sekarang, tradisi balap kerbau nggak cuma dilakukan oleh para petani, tapi juga dari berbagai kalangan. Bahkan, makepung diselenggarakan secara professional dan dilombakan juga lho!

Sebagai pemanasan, kompetisi Makepung diadakan di sekitar Melaya. Bagi mereka yang menang, akan bertanding lagi di babak final dan merebutkan Piala Bupati Jembrana dan Piala Gubernur.

Nggak tanggung-tanggung, tiga ratus pasang kerbau berpartisipasi di tradisi ini!

Kerbau ini ditunggangi oleh joki mereka. Para joki kerbau akan naik bajak kayu yang dimodifikasi khusus untuk mengikuti kompetisi. Mereka bakal bertanding di sirkuit yang tersebar di seluruh Bali. Ada sekitar tujuh sirkuit, antara lain: Sangyang Cerik, Delod Berawah, Kaliakah, Pangkung Dalem, Merta Sari, Tuwed, Awen, dan sirkuit utama di Melaya. Saat ini, area balap Makepung bukan lagi di sawah yang berlumpur, tapi di tanah kosong yang membentuk huruf U dengan jarak dua kilometer.

Aturan dalam kompetisi ini bisa dibilang cukup unik. Pemenang dipilih berdasarkan jarak antar peserta lain, bukan siapa yang paling cepat sampai di garis finish. Para joki harus memastikan dia berada minimal sepuluh meter di depan lawannya agar bisa menang. Nah, kalau lawannya bisa mempersempit jarak menjadi kurang dari sepuluh meter, dia yang menjadi pemenangnya. Cukup rumit ya.

Makepung udah jadi agenda tahunan dan menjadi salah satu atraksi yang diminati turis domestik maupun internasional. Apalagi dengan kerbau-kerbau yang didandani dengan aksesoris khas Bali. Gerobaknya sendiri juga nggak dibiarkan polos begitu saja, tapi juga diukir dan dihias sehingga terlihat artistik dan meriah. Tradisi ini biasanya dilakukan di Bulan Juni sampai Oktober dan diadakan setiap hari Minggu.

Kalau kamu berminat untuk menontonnya, kamu harus datang pagi-pagi karena Makepung dilaksanakan sekitar jam 07.00 WITA.

Nih, jadwal tradisi Makepung tahun 2018:

  1. Minggu, 15 Juli: Sirkuit Desa Delodberawah
  2. Minggu, 29 Juli: Sanghyang Cerik, Sirkuit Desa Tuwed
  3. Minggu, 12 Agustus: Mertasari. Sirkuit Loloan Timur (Bupati Cup)
  4. Minggu, 26 Agustus: Awen, Lelateng Sirkuit
  5. Minggu, 9 September: Sirkuit Desa Delodberawah
  6. Minggu, 23 September: Sirkuit Desa Kaliakah
  7. Minggu, 7 Oktober: Mertasari. Sirkuit Loloan Timur
  8. Minggu, 21 Oktober: Pangkung Dalem, Sirkuit Desa Kaliakah
  9. Minggu, 4 November: Sirkuit Desa Delodberawah
  10. Minggu, 18 November: Sanghyang Cerik, Sirkuit Desa Tuwed (Jembrana Cup - FINAL)

Tonton keseruannya di pulau dewata, yuk!

 

Photo Credits: baligolive, come2indonesia, duniart, ijsseldijkblog, ragamseni.